Penyebab Sederhana Anak Tak Gemar Matematika

Penyebab Sederhana Anak Tak Gemar Matematika

Rabu, 5 Oktober 2016 | 01:14 WIB

Oleh : Tasya Paramitha, Adinda Permatasari

 

VIVA.co.id – Minat anak-anak Indonesia terhadap matematika masih rendah. Masih banyak yang menganggap bahwa matematika adalah bidang yang sulit dan tidak menyenangkan. Apa yang menyebabkan hal itu?

Guru Besar Matematika Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. rer. nat. Widodo, M.S. mengungkapkan, berdasarkan hasil survei terhadap 1.000 lebih siswa ditemukan ada tiga penyebab utama kenapa matematika masih dianggap sesuatu yang sulit.

“Pertama bukunya, kedua gurunya, ketiga siswanya. Kita lihat di hampir semua toko buku pasti buku matematika itu banyak yang tidak punya konteks, langsung membahas limit itu apa, integral apa, jadi apa menariknya? Berbeda dengan Jepang yang memakai konteks. Matematika yang sedikit konteks akan menjadi matematika yang abstrak,” kata Widodo saat acara talkshow 21st Century Math Skills: Change The Focus From Calculation to Exploration di Senayan, Jakarta, Selasa, 4 Oktober 2016.

Kemudian dari sisi guru matematika di Indonesia, Widodo menuturkan bahwa hanya 11,35 persen guru matematika di Indonesia yang memiliki kompetensi dan keterampilan mumpuni dalam mata pelajaran ini. Kebanyakan tidak menguasai pelajaran ini sehingga ketika ada siswa kreatif bertanya, dia akan marah karena ketidaktahuannya itu.

Yang terakhir adalah siswa, dimana sejak dulu kala matematika itu sudah dicap sulit oleh nenek moyang kita. Maka, jika sejak awal matematika sudah dikatakan sulit, dia pun akan menjadi sulit.

“Anak perlu motivasi, caranya adalah pertama guru harus memberi kesempatan pada murid bodoh, sedang, dan pandai untuk berhasil satu kali saja. Misalnya, dalam satu semester ada tujuh kali ujian, kalau semua ujian itu dia gagal terus pasti dia akan menyerah. Keberhasilan itu bisa menimbulkan motivasi,” ujar Widodo.

Kemudian, Widodo juga mengimbau agar pemerintah membuat buku matematika demgan konteks seperti yang dilakukan pada tahun 2013 untuk SMP dan SMP yang memiliki semboyan tematik plus mapel. Artinya, mengajarkan matematika dikontekskan dengan fisika, masalah keuangan, alat musik, dan sebagainya. Karena konteks itu penting dalam matematika.

“Faktor lain di luar ketiga faktor tadi yang perlu saya tambahkan adalah guru matematika kalau mengajar tidak pernah senyum. Itu salah satu penyebab juga, guru matematika tidak pernah senyum dan tidak memberikan cerita menarik,” kata Widodo menambahkan.

 

Terdapat landasan – landasan teori yang dikaitkan dengan artikel tentang kesulitan belajar matematika diatas, yaitu :

 

¨     Landasan Filosofis Pendidikan.

Landasan filosofis Pendidikan adalah seperangkat asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak dalam Pendidikan. Filsafat berasal dari dua suku kata Yunani Kunoa, yaitu philein (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Jadi secara etimologis filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan (Dagobert D. Runes, 1981).

Landasan filosofis Pendidikan merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh para pendidik karena dapat memberikan petunjuk tentang tujuan utama dalam Pendidikan. Sedangkan kebanyakan siswa tidak mengetahui mengapa mereka harus belajar integral, limit, trigonometri dan hal lain yang sering membuat kepala pusing karena yang mereka ketahui adalah mereka harus belajar supaya mereka dapat sukses di masa depan.

Karena itulah landasan filosofis Pendidikan sangat diperlukan untuk mecegah hal-hal yang tidak dinginkan seperti kesalahan dalam praktek Pendidikan dan tujuannya.

         

¨     Landasan Psikologis Pendidikan.

Landasan psikologis Pendidikan adalah kajian tentang dasar – dasar psikologis yang dapat menjadi landasan teori maupun praktek Pendidikan.

Masalah – masalah seperti bagaimana cara agar para Pendidik/guru dapat membuat suasana belajar yang kondusif dalam kelas ataupun bagaimana cara supaya para pendidik/guru dapat memberikan cara belajar yang efektif sehingga dapat membuat para siswa menjadi semakin bersemangat dalam belajar, terutama terhadap mata pelajaran yang berat seperti matematika. Karena berdasarkan artikel diatas, hanya 11,35 persen guru matematika di Indonesia yang memiliki kompetensi dan keterampilan mumpuni dalam mata pelajaran ini, hal ini tentu membuat pelajaran ini semakin sulit untuk dipahami oleh siswa.

    
¨     Landasan Sosiologis dan Antropologis Pendidikan.

Sosiologi berasal dari Bahasa Yunani yaitu socius (teman) dan logos (ilmu pengetahuan). Pada umumnya sosiologi lebih dipahami sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Sosiologi Pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola – pola interaksi sosial di dalam Pendidikan.

 Antropologi berasal dari Bahasa Yunani yaitu antropos (manusia) dan logos (ilmu pengetahuan). Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya.

Landasan sosiologi dan antropologi pendidikan antara lain membahas tentang konsep pendidikan dalam konteks masyarakat dan kebudayaannya, hubungan antara pendidikan dan masyarakat, hubungan pendidikan  dan kebudayaannya serta berbagai lingkungan pendidikan yang ada di dalam masyarakat. Sebab itu, kajian tentang landasan sosiologi dan antropologi ini  dipandang penting bagi para pendidik, khususnya bagi para guru.              

Artikel diatas menyebutkan bahwa guru matematika di Indonesisa jarang tersenyum dan tidak membuat cerita menarik hal ini akan membuat para siswa ketakutan untuk mengeluarkan pendapatnya, sehingga mereka lebih sering terdiam di dalam kelas dan membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman. Padahal seharusnya siswa harus memberikan pendapatnya sehingga mereka akan mengetahui apakah pendapat mereka benar atau salah. Guru juga harus bersosial dengan siswa – siswa nya sehingga siswa menjadi tidak malu untuk bertanya maupun memberitahukan masalah kesulitannya dalam belajar, sehingga guru bisa membantu memperbaiki kekurangan pada diri siswa – siswa didikannya.

   

¨     Landasan Historis Pendidikan.

          Landasan historis pendidikan merupakan pandangan ke masa lalu atau pandangan retrospektif (Buchori, 1995: vii). Pandangan ini melahirkan studi-studi historis tentang proses perjalanan pendidikan nasional Indonesia yang terjadi pada periode tertentu di masa yang lampau.

          Sejak kecil kita sudah dikenalkan dengan matematika di TK, saat itu kita masih memiliki konteks seperti saat melakukan perjumlahan, kita menggunakan sebuah gambar permen bukan angka. Tetapi semakin lama konteks itu akhirnya hilang, berdasarkan artikel diatas, hal ini merupakan salah satu alasan mengapa matematika menjadi kurang digemari dan sangat sulit dipahami oleh anak – anak. Sehingga saat sudah menginjak berada di tingkat SMP siswa – siswa sudah tidak peduli tujuan mereka belajar matematika, saat itu mereka hanya fokus mengejar nilai tinggi dengan menghapus nilai – nilai pendidikan supaya bisa masuk SMA yang mereka inginkan, begitu pula saat mereka di tingkat SMA, mereka fokus untuk mengejar cita – cita untuk masuk Perguruan Tinggi.

   

link download Penyebab Sederhana Anak Tak Gemar Matematika

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *